Selasa, 02 April 2013

Harta Jackie Chan Disumbangkan Penuh Ke Orang Miskin

Harta Jackie Chan Disumbangkan Penuh Ke Orang Miskin. Berita Heboh ini datang dari seorang Aktor Asia Yang berhasil Mengibarkan dibelantika Dunia Entertainment Internasional. Jackie Chan sudah Membintangi 150 film dan kurang lebih sudah 40 tahunan hidup di industri Hollywood.

Saat ini, kekayaan pria kelahiran Hong Kong itu diperkirakan mencapai £85 million atau setara Rp1,2 triliun. Untuk aksi sosialnya tersebut, bintang dalam "Rush Hour" itu bergabung dalam Partai Komunis sebagai salah satu dari kelompok pembantu dalam memerangi kemiskinan.

Jackie juga mengajak beberpa temannya, seperti Chris Tucker, Owen Wilson, dan Will Smith, untuk membantu kampanyenya dalam menumpas kemiskinan di dunia.

"Mereka bertanya kenapa saya melakukan ini, dan bukankah ini tugas pemerintah," ceritanya. Hampir sebagian orang menganggap aksi Jackie tersebut hanya sebagai figur publik.

"Saya lahir dari keluarga miskin dan saya tahu bagaimana rasanya, saat tidak punya uang untuk berobat," jawabnya.

Jackie masih mengingat kisah kecilnya, di mana ia harus bersekolah berjalan kaki, karena ongkosnya digunakan untuk makan siang. Saat Palang Merah mengunjungi sekolah membawa sikat gigi, susu, dan pakaian, ia hanya dapat mantel tua.

Meski hanya mantel tua, Jackie mengaku sangat bahagia. Saat mengucapkan terima kasih, orang itu berkata pada Jackie kecil, jika ingin berterima kasih, ia juga harus bisa membantu orang lain.

"Sejak saat itu, saya selalu mengingat kata-kata itu," tuturnya kepada Media

Sungguh Mulai Engkau Jackie chan. Semoga Engkau Bahagia Dalam Dekapan Anugrah Illahi. Ayo SObat Kapan Kita Bisa membantu Sesama ?

Misteri Orang Pendek Sumatra Itu Kera Atau manusia

Misteri Orang Pendek Sumatra Itu Kera Atau manusia masih menjadi perdebatan di kalangan tertentu. Banyak Sekali Fakta Yang mendukung dugaan Masing masing kelompok. Nah mari kita Lihat Detail Faktanya dibawah ini

Hampir setiap hari para polisi hutan di Taman Nasional Way Kambas, Lampung, berjalan kaki menyusuri hutan perawan di wilayah seluas 125 ribu hektar. Itu tugas rutin, berpatroli mengawasi tiga area besar taman konservasi, Way Kanan, Way Bungur, dan Kuala Penet.  Setiap area itu dibagi lagi menjadi empat resor.

Mereka menjaga taman nasional dari pembalakan liar, atau perburuan liar. Hutan di Way Kambas adalah tempat konservasi badak, harimau sumatera, dan juga gajah. Di sana bahkan ada sekolah gajah pertama di Indonesia.

Sekali patroli, para polisi hutan itu bisa berjalan kaki selama dua pekan, atau bahkan sebulan. “Mereka membawa makanan, dan juga tenda”, ujar juru bicara Taman Nasional Way Kambas, Sukatmoko kepada VIVAnews. 

Tapi satu regu patroli di resor Rawa Bunder, Way Kanan, menemukan hal mengejutkan pada Ahad, 17 Maret 2013 lalu. Di petang hari itu, di saat tubuh mulai lelah, tujuh polisi hutan terperangah: ada sekelompok makhluk mirip manusia namun ukurannya lebih kecil melintas di rawa.

Mereka sontak terkesiap. Para polisi hutan dan kelompok “orang pendek” itu berhadap-hadapan dengan jarak sekitar 30 meter.  Kaget, dan tak menyangka bersua makhluk aneh, para polisi hutan itu terpacak diam. Hening. Sekejap kemudian, gerombolan “orang pendek” itu berlari masuk ke dalam rimbun hutan. Hilang.

Barulah para polisi hutan sadar, seharusnya mereka mengabadikan gambar “orang-orang pendek” itu. Mereka hanya bisa mengingat “orang-orang pendek” itu bertelanjang, sebagian memegang kayu berbentuk tombak, dan bahkan ada yang menggendong bayi. Diduga saat itu, mereka sedang mencari ikan atau mencari air minum.

Penasaran dengan apa yang mereka lihat, tiga hari kemudian, grup itu kembali berpatroli di tempat sama. Tim sengaja memilih waktu persis saat mereka bertemu makhluk aneh, menjelang malam. Dan betul, “orang-orang pendek” yang dihitung lebih dari sepuluh orang itu terlihat lagi. “Suasana dan lokasinya sama saat petugas patroli melihat yang pertama dan yang kedua,” kata Sukatmoko. Namun, lagi-lagi, polisi kalah cepat memotret mereka.

Dari penampakan kedua ini, tim memastikan, penampilan “orang-orang pendek” itu seperti manusia purba. “Mereka tidak memakai baju, berambut gimbal panjang dan memegang tombak kayu panjang. Tidak bisa juga dibedakan yang masih dewasa atau anak-anak, namun petugas kami melihat ada di antaranya seperti yang perempuan sedang menggendong bayi,” Sukatmoko menambahkan.

Hari itu juga, polisi hutan Taman Nasional memasang 15 kamera pengintai bersensor inframerah di sekitar lokasi itu. Kamera ini biasa digunakan untuk menangkap gambar aktifitas satwa liar, dan bisa menangkap objek bergerak yang melewatinya baik siang maupun malam.

“Nanti kalau sudah ada bukti secara visual kami baru bisa bicara. Karena selama ini kami hanya mengandalkan bukti penglihatan mata petugas, maka kami saja belum berani melaporkannya ke kementerian kehutanan secara resmi,” kata Sukatmoko.

Ini sebetulnya bukan kali pertama “orang-orang pendek” itu terlihat. Pada 1995, satu regu pendaki di Gunung Singgalang pernah bersua dengan makhluk serupa yang dilihat para polisi hutan di Way Kambas.  Denni, seorang anggota pendaki itu, menghubungi VIVAnews setelah berita temuan “orang-orang pendek” itu dimuat di media. “Saya pernah melihat ‘orang pendek’”, ujarnya.

Dia berkisah, pada suatu pagi,  dia mendaki gunung setinggi 2.887 meter itu. Sekitar pinggang gunung, di sebuah kawasan yang agak datar, tiba-tiba Denni dan temannya kaget campur takjub melihat sepasang makhluk seperti monyet tapi berjalan dengan dua kaki. Tangannya mengayun khas seperti manusia. “Bulunya berwarna emas, berjalan tegak, berpegangan tangan,” kata Denni. Denni dan temannya berhenti berjalan, lalu mengamati.

Tinggi makhluk tak berekor itu sepinggangnya atau kira-kira 1 meter. Sepasang makhluk itu berjalan kira-kira 30 meter di dekat mereka berdua. Semua badannya berbulu, kecuali mukanya. Bulu di kepalanya sedikit lebih panjang. “Mukanya agak rata,” kata Denni.

Meski perawakan seperti manusia, namun bulu tipis di sekujur badannya membuatnya tampak lebih seperti monyet daripada manusia, kata Denni.

Karena tak pernah melihat makhluk macam itu sebelumnya, Denni yang menenteng kamera saku pun bergerak cepat hendak memotret. Namun seperti tahu mau dipotret, kedua makhluk itu bergerak lebih cepat, menghilang di balik rimbun pepohonan. Dia gagal mengambil gambar dari temuan langka itu.

“Orang Pendek” Kerinci

Tapi Deborah Martyr, perempuan peneliti asal Inggris yang beberapa kali menyaksikan ”orang pendek” di Taman Nasional Kerinci Seblat, meragukan makhluk yang dilihat polisi hutan di Way Kambas adalah “orang pendek” yang sama.

Debbie, begitu panggilan perempuan itu, menyatakan “orang-orang pendek” yang dilihatnya di sejumlah hutan di Jambi, Bengkulu dan Sumatera Barat umumnya soliter, tidak bergerombol lebih dari tiga orang.

“Saat melihat ‘orang pendek’, dia hanya sendiri. Tidak pernah saya melihat mereka berkelompok hingga belasan,” kata Pemimpin Tim Fauna & Flora International's Tiger Protection & Conservation Units di Sumatera itu. (Baca juga bagian 4—Wawancara Debbie Martyr)

Perkenalan Debbie dengan “orang pendek” dimulai dari tahun 1989, ketika dia saat itu bekerja sebagai jurnalis sebuah media di Inggris, dan berlibur ke kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat yang membentang di empat provinsi yakni Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Saat itu, Debbie mendengar kisah Orang Pendek. Dia pun penasaran. Namun baru tahun 1994, Debbie bersama Jeremy Holden dari Fauna dan Flora International-IP dan Achmad Yanuar dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menggelar Project Orang Pendek.

“Awalnya saya juga beranggapan sama, itu hanya mitos. Namun setelah melihat, saya yakin itu bukan mitos,” katanya saat diwawancara jurnalis VIVAnews, Eri Naldi dan Arjuna Nusantara, di kediamannya di Sungai Penuh, Jambi, Rabu 27 Maret 2013.

Debbie pertama kali melihat “orang pendek” tahun 1994 di kawasan Gunung Tujuh dan kemudian di Gunung Kerinci, masih di Taman Nasional Kerinci Seblat. Tahun 1995, saat memasuki bagian Sumatera Barat dari taman nasional itu, di Solok Selatan, kembali Debbie melihat makhluk soliter ini. Tahun itu juga dia kembali menyaksikan makhluk itu di hutan lindung di perbatasan Sumatera Barat dengan Sumatera Utara. Terakhir, pada 1996, Debbie melihatnya lagi di sebuah hutan produksi di Mukomuko, Bengkulu, dan di Tapan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Namun tak satu pun yang berhasil dipotretnya. Padahal mereka sudah memakai kamera pengintai paling canggih yang biasa memotret harimau sumatera. Alhasil, tim penelitian ini lebih banyak mengandalkan penelitian berdasarkan pandangan mata saksi, termasuk mereka sendiri.

 “Badannya agak besar, tinggi sekitar 130 cm. Warna kulitnya madu tua, bulu di kepala sedikit tebal. Perawakan wajahnya hampir sama dengan orangutan tapi tidak mirip dengan manusia,” kata Debbie menceritakan ciri-cirinya, mirip seperti yang dilihat Denni di Gunung Singgalang.

Yanuar yang meraih gelar master dari Universitas Cambridge, Inggris, atas penelitian primata di Kerinci ini juga mengalami hal yang sama, hanya bisa melihat namun tak bisa mengabadikan gambar “orang pendek” ini. Bahkan Yanuar lebih dulu melihat “orang pendek” ini daripada Debbie. Kali pertama, seperti diungkapkannya dalam sebuah laporan terkait Project Orang Pendek, adalah di Provinsi Lampung di tahun 1993.

 “Jelas sekali berjalan dengan dua kaki, memperlihatkan ayunan tangannya,” kata Yanuar. “Warna (bulu)nya coklat agak keemasan.”

Meski tak mendapatkan gambar meyakinkan, Project Orang Pendek ini berhasil mengumpulkan spesimen rambut, feses, jejak telapak kakinya, serta bentuk pemukimannya. Rambutnya kemudian ada yang dikirim ke Inggris untuk diekstrak DNA-nya. Jejak kaki juga dicetak, memperlihatkan lekuk seperti telapak kaki manusia, namun lebih pendek, lebih lebar dan jempolnya agak besar dan mencelat.

“Jempol menonjol keluar dan beban sepertinya dibagi rata untuk menghasilkan kombinasi kera besar dan manusia. Saya mencatat beberapa persamaan, berdasarkan bentuk kaki,” Yanuar menulis di laporan riset.

Satu kali, dalam riset lapangan, tim sempat mendapatkan feses segar “orang pendek”. Baunya seperti feses manusia. Analisis atas feses ini, disimpulkan orang pendek itu adalah omnivora meski lebih banyak memakan sayur, buah-buahan dan akar-akaran. Orang pendek juga memangsa serangga seperti ulat pohon dan larva. “Tapi sepertinya dia tidak makan cabai,” kata Debbie lalu tertawa.

Kemudian tim juga mengumpulkan hasil wawancara dengan penduduk yang pernah bertemu makhluk itu. Narasumber ini macam-macam pekerjaannya, 57 persen petani, 18 persen pemburu atau pengumpul gaharu, 14 persen pegawai pemerintah, 4 persen ahli kehutanan dan lainnya sekitar 8 persen.

Ada variasi penampakan “orang pendek” di mata narasumber riset. Ada yang melihatnya berjalan dengan empat kaki, tapi umumnya dua kaki. Tapi semuanya konsisten melihat makhluk ini berjalan di atas tanah, tak ada yang melayang dari pohon ke pohon seperti dilakukan kera, beruk atau orangutan.

Sementara warna bulu di badannya, umumnya berwarna coklat meski ada sedikit yang melihatnya kemerahan atau keemasan. Bulu di kepala lebih panjang dan tebal, sementara di bagian dada dan perut lebih tipis sehingga memperlihatkan warna kulit mereka.

Umumnya mereka ditemui sedang berjalan, kemudian makan, dan sedikit yang bertemu sedang berbaring. Sementara tinggi badan, ada yang melihat di bawah 1 meter, namun ada yang sampai 130 sentimeter. (Lihat Bagian 2—Infografik)

Narasumber ini tersebar di sepanjang Bukit Barisan dari utara Sumatera Barat sampai ke selatan Bengkulu, baik dari dataran rendah sampai pegunungan di atas 1.000 meter di atas permukaan laut. Penamaannya pun beragam.

Di Sumatera Barat, “orang pendek” itu juga dikenal sebagai Si Bigau. Di Jambi sendiri, selain disebut Uhang Pandak (dialek lain dari ‘Orang Pendek’), juga disebut Antu Pandak dan Si Gugu.

William Marsden, yang menghabiskan masa mudanya di Sumatera antara tahun 1754 sampai 1836, sudah menyinggung soal Si Gugu ini dalam bukunya berjudul “History of Sumatra”. Dalam buku edisi tahun 1811, Marsden yang juga dari Inggris menceritakan bahwa di antara Palembang dan Jambi, ada dua suku yang hidup di hutan yakni suku Kubu dan Gugu. Gugu, dijelaskan Marsden, kecil dan berbulu di sekujur tubuhnya.

Seorang warga Sungai Penuh, Kerinci, Iskandar Zakaria, adalah salah satu warga yang percaya dengan keberadaan Orang Pendek. Di tahun 1990-an akhir, Iskandar yang kini berusia 71 tahun melihat betul Orang Pendek. Saat itu, Iskandar memang sengaja menjelajah hutan di kaki Kerinci dengan niat mencari makhluk legenda itu.

Di hari ketiga pencariannya, menjelang Subuh, Iskandar yang saat itu mau buang air besar di pinggir sungai di sebuah perkebunan melihat yang dicari-carinya. Orang Pendek terlihat turun dari bukit menuju sungai. "Saya terkejut dan hanya bisa diam saja. Karena, Uhang Pandak itu berjalan tepat di hadapan saya. Pada saat itu jaraknya hanya sekitar dua atau tiga meter saja dari saya," katanya.
 
"Pada saat melintas di depan saya, Uhang Pandak ini melirik saya. Kejadian itu cepat sekali. Karena, setelah melintas di hadapan saya, Uhang Pandak hilang ke dalam hutan lagi," katanya.
 
Dari pengamatan itulah, Iskandar menyatakan, wajah Orang Pendek sama sekali tidak menyerupai manusia. Sekujur tubuh mahluk dengan ketinggian sekitar 80 sentimeter ini ditutupi bulu seperti orangutan. Dan satu hal lagi, dia berjalan dengan telapak kaki ke depan, bukan terbalik seperti selama ini menjadi mitos di masyarakat

"Tempat tinggal Uhang Pandak ini semak rimbun. Makanannya kulit kayu yang ada di hutan. Karena, dari yang saya temui di sekitar tempat tinggal Uhang Pandak ini banyak bekas kupasan kulit kayu," katanya.

Kera atau Orang?

“Mereka tergolong primata, bukan manusia,” kata Debbie yakin, saat ditanya soal klasifikasi “Orang Pendek” ini. Orang Pendek, kata Debbie, adalah primata yang belum tercatat dalam ilmu pengetahuan.

“Asumsi saya dia lebih dekat ke Siamang. Mereka tidak berkelompok tapi tumbuh dalam keluarga kecil—satu ibu dan anak-anak tanpa pejantan.” Karena asumsi inilah Debbie meragukan gerombolan yang di Way Kambas adalah “Orang Pendek” yang sama dengan yang ditelitinya bertahun-tahun.

David Chivers, ahli primata dari Universitas Cambridge, telah menganalisis jejak telapak kaki yang dikumpulkan Debbie dan kawan-kawan. “Sangat tak biasa, karena mereka merupakan campuran karakter dari semua jenis kera dan manusia,” kata Chivers seperti dilansir majalah Edge Science edisi #7, April-Juni 2011. “Mereka punya jari yang lebih pendek, hampir seperti manusia.” Antropolog biologis dari Universitas Idaho, Jeff Meldrum, juga melihat jejak kaki itu menandakan bipedalisme atau berjalan dengan dua kaki.

Sementara analisis atas DNA rambut, ahli hewan Hans Bruner dari Universitas Deakin, Australia, menyatakan rambut itu milik primata tak dikenal. Tahun 2010, jebolan genetika Universitas Oxford Tom Gilbert melakukan tes DNA sendiri atas rambut tersebut. Peneliti di Centre for GeoGenetics, bagian dari Natural History Museum of Denmark, itu menyatakan DNA makhluk itu adalah manusia, atau setidaknya berhubungan dekat dengan manusia. Jika pendapat ini diterima, “orang pendek” bisa berdiri sejajar dengan Homo neanderthal, Homo floresiensis dan Homo sapiens alias masuk jajaran “manusia”. (Baca juga Bagian 3—Berburu “Hobbit” di Gua Flores)

Lembaga riset genetika di Indonesia, Eijkman Institute for Molecular Biology sendiri skeptis dengan status manusia atas “orang pendek” ini. Deputi Direktur Lembaga Eijkman  Prof Herawati Sudoyo menyatakan, pertanyaan soal genetika “orang pendek” belum bisa dijawab karena tak ada gambar yang jadi bukti keberadaan mereka. Jika keberadaannya sudah pasti, barulah kemudian bisa lanjut kepada pengambilan sampel DNA, kata Herawati.

Soal gambar dan habitat “orang pendek” inilah yang menjadi pekerjaan bertahun-tahun sejumlah pemerhati flora dan fauna. Fauna Flora International (FFI) yang melakukan monitoring harimau sumatera di Taman Nasional Kerinci Seblat belum pernah mendapat gambar “orang pendek” dari seratusan kamera trap yang terpasang di enam lokasi sejak tahun 2004.

“Jika memang ada, mungkin sudah tertangkap kamera pengintai kami,” ujar Yoan Dinata, Manager FFI areal Sumatera Barat pada VIVAnews.

 “’Orang pendek’ itu sepertinya punya kemampuan mendeteksi benda listrik,” kata Suwandi Ahmad, yang pernah membantu dokumentasi tim Debbie saat mengumpulkan data “orang pendek”. “Indra pendengaran dan penciuman mereka sepertinya tajam sekali,” kata Suwandi.

Dia lalu menceritakan sebuah kisah unik seorang fotografer alam bebas yang sudah delapan bulan mengikuti Debbie, berusaha memotret “orang pendek”. “Setelah delapan bulan, pada suatu saat, baterai kameranya habis, dia lalu mengganti baterenya,” kata Suwandi. “Saat itulah, beberapa “orang pendek” datang mengerubungi fotografer itu. Dia gemetaran saat mengisi baterai, namun ketika sudah terisi, ‘orang pendek’nya pergi lagi. Seminggu lamanya setelah itu si fotografer ngambek,” kata Wandi tertawa.

Dosen Biologi Universitas Andalas, Dr. Wilson Novarino, salah satu ilmuwan yang yakin akan keberadaan “orang pendek”, menyebut insting makhluk menghindari dari manusia itu mungkin bagian dari kunci survivalnya. “Karena kondisinya yang sangat sensitif dan tidak mau bertemu manusia, bisa jadi populasinya semakin mengerucut,” kata Wilson.
Jejak Kaki Si Orang pendek

Orang Pendek, kata Wilson, sangat besar kemungkinan salah satu dari banyak hewan yang masih misterius. Hingga kini baru 1,9 juta spesies telah teridentifikasi. Dalam studi yang dipublikasikan Selasa, 23 Agustus 2011 di jurnal PLoS Biology, ilmuwan menghitung ada nyaris 8,8 juta spesies di Bumi. Dari jumlah itu, 6,5 juta berada di daratan dan 2,2 juta di lautan.  Kerajaan hewan mendominasi dengan 7,8 juta spesies, fungi (jamur) sekitar 611.000 dan tanaman sekitar 300.000 spesies.

Jika benar ada 8,8 juta spesies, "Itu angka yang brutal," kata Direktur Eksekutif Ensiklopedi Kehidupan, Erick Mata. "Kita bisa menghabiskan waktu 400 sampai 500 tahun untuk mendokumentasikan spesies yang benar-benar hidup di planet kita," katanya.

Bisa jadi, “orang pendek” adalah salah satu makhluk yang masih luput terdata itu. Bagaiman menurut Anda Apakah Orang pendek itu Manusia Atau kera ?

Perlukah Pilkada Palobo Dianulir Karena Kerusuhan ?

Perlukah Pilkada Palobo Dianulir Karena Kerusuhan ? Sudah Sering sekali Indonesia mengalami Banyak Peristiwa rusuh Di masyarakat. Bahkan Saat Penghitungan suara hasil pemilihan Wali Kota Palopo, Sulawesi Selatan, berubah jadi rusuh. Sejumlah fasilitas pemerintah di kota itu dibakar massa, Minggu kemarin. Aksi brutal tersebut berlangsung usai Komisi Pemilihan Umum (KPU) Palopo menetapkan pasangan Judas Amir - Ahmad Syarifuddin (JA) sebagai pemenang pemilukada putaran kedua tersebut.

Polisi telah menangkap satu tersangka pelaku pembakaran kantor pemerintah. Melalui dia, aparat akan mendalami kerusuhan ini lebih lanjut. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sulsel Komisaris Besar Polisi Endi Sutendi mengungkapkan, tersangka itu berinisial M alias I, warga Mallangke Barat, Kabupaten Luwu Utara.

“M alias I tertangkap tangan membawa botol minuman air mineral berisi bensin,” kata Endi Sutendi, Senin, 1 April 2013.

Polisi menangkap lelaki berusia 32 tahun itu di sekitar kantor Wali Kota Palopo. Selain dia, aparat memeriksa sejumlah saksi lainnya. “Ini adalah upaya penegakan hukum terhadap para pelaku yang anarki,” kata mantan Wakil Kapolrestabes Makassar ini.

Kapolri Jenderal Timur Pradopo mengatakan kondisi Kota Palopo saat ini sudah kondusif dan ketat diamankan Polri dan TNI. “Satu tersangka sudah tertangkap. Kami harapkan masyarakat untuk tenang. Kalau memang ada hal-hal yang menjadi permasalahan, silakan diproses sesuai dengan ketentuan hukum. Kalau terkait masalah pilkada, tentunya melalui Mahkamah Konstitusi,” kata Timur di Kantor Presiden, Jakarta, Senin.

Timur mengatakan kerusuhan Palopo berlangsung sangat cepat karena warga tak dapat menahan diri. Namun apapun alasan di balik kerusuhan itu, kepolisian akan menegakkan hukum sesuai ketentuan. “Kapolda sudah ada di lokasi, back up TNI diperkuat, kami tunggu hasil penyelidikan berikutnya,” kata dia.

Satu hari setelah kerusuhan, Senin, sejumlah jalan utama yang sempat diblokir massa, dibuka dan kembali sudah dilewati warga. Polda Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat kini telah mengambil-alih pengamanan Palopo. Polisi juga telah menambah aparat keamanan dua kali lipat menjadi 1.100 personel. Pengamanan terdiri dari lima Satuan Setingkat Kompi (SSK) dari Brimob Polda Sulsel yang di-back up oleh dua SSK TNI dan satuan lain.
 
Seluruh personel pasukan siap siaga di 43 titik pusat keramaian seperti pasar, tempat ibadah, posko pemenangan Judas dan Haidir Basir, serta kantor-kantor pemerintahan. 

Awal rusuh

Dijelaskan Kepala Bidang Humas Polda Sulselbar, Komisaris Besar Pol. Endi Sutendi, penghitungan suara yang berlangsung sekitar pukul 10.00 Wita, Minggu 31 Maret 2013, berlangsung normal. Berdasarkan rekapitulasi KPU Palopo, pasangan Judas Amir dan Ahmad Syarifuddin ditetapkan sebagai Walikota dan Wakil Walikota Palopo. Pasangan JA memperoleh 37.469 suara, sedangkan pasangan Haidar Basir - Tamrin (HATI) 36.731 suara, atau hanya berselisih 738 suara. Jumlah partisipasi pemilih mencapai 69,11 persen.

Namun, usai pemenang diumumkan sekitar pukul 13.00 Wita, tiba-tiba massa yang diduga merupakan pendukung pasangan nomor urut 5, HATI, tiba-tiba mengamuk di kantor KPU. "Massa HATI tiba-tiba melakukan pelemparan batu dan bom molotov," kata Endi, Minggu.

Meski dapat dipukul mundur oleh sekitar 600 personel polisi yang bersiaga, polisi akhirnya kewalahan juga. Sebab, pada saat pasukan pengamanan berkonsentrasi mengamankan para perusuh di sekitar kantor KPU, tiba-tiba api menjilat sejumlah bangunan pemerintah. Yang terbakar itu antara lain kantor Golkar Palopo, Walikota Palopo, Harian Palopo Pos, Panwas Palopo, serta Camat Wara Timur.

Menurut dugaan sementara, amuk massa ini dipicu beredarnya kecurigaan adanya penggelembungan suara yang menguntungkan pasangan JA.

UU Pilkada ditinjau

Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi meminta masyarakat mengambil hikmah dari kerusuhan ini. Dia mengatakan, terbukti bahwa pemilihan kepala daerah secara langsung berdampak buruk di beberapa daerah. Oleh sebab itu, evaluasi atas pilkada langsung akan segera dilaksanakan.

“Kebetulan undang-undangnya sedang kami bahas dengan DPR. Kemungkinan akan ada perubahan dalam UU Pilkada,” kata Mendagri di kantor Presiden, Jakarta, Senin. “Pemilihan kepala daerah di provinsi bersifat langsung, sementara pemilihan kepala daerah di kota/kabupaten lewat perwakilan di DPRD.  Ini konsep baru yang sedang dibahas."

Menurut Gamawan, pilkada langsung dapat dilakukan apabila masyarakat sudah mampu berpolitik secara dewasa. Namun sayangnya, pemilihan langsung malah menjadi bumerang di sejumlah daerah. Banyak amuk massa terjadi karena massa pendukung tak bisa menerima kekalahan jagoan mereka.

“Kejadian ini harus diambil hikmahnya dari segi pendidikan politik. Ada tanggung jawab partai politik terhadap kader-kadernya. Tim sukses juga punya tanggung jawab. KPU dan pemerintah daerah harus mencegah kerusuhan seperti ini supaya demokrasi mekar,” kata Gamawan.

Mendagri mengatakan, berdasarkan data kementeriannya, sejak tahun 2005 sudah lebih dari 50 orang yang tewas karena kerusuhan pilkada. “Kalau di semua daerah terjadi konflik terkait pilkada langsung, artinya kita tidak juga dewasa dalam berdemokrasi, dan pilihannya kembali ke sistem pilkada lewat perwakilan,” kata dia.
Bagaimana Menurut Anda tentang Masalah Ini ?

Pasukan AS Jadi Sasaran latihan Tembak Korut

Pasukan AS Jadi Sasaran latihan Tembak Korut. Video ini Sudah Menyebar luas Diinternet, Dalam Video ini terlihat kalau Pasukan Korut Sedang latihan Menembak dan sasaran yang mereka gunakan bukan lagi seperti biasa Namun Pasukan Amerika Serikat. Ya Benar sekali . Sasaran tembak Itu Dibuat Dengan Gambar Pasukan amerika Serikat sehinga pasukan Korut lebih Semangat Lagi Untuk Latihan Menembak

video ini dimunculkan pertama kali oleh televisi lokal Korut tak lama setelah status perang untuk Korsel resmi diumumkan. Belum jelas waktu dan lokasi tempat latihan.

Di gambar tersebut, terlihat ada empat tentara Korut yang sedang latihan menembak. Dua target yang terlihat adalah pria berdasi keturunan Korea Selatan, dan tentara AS yang diberi tulisan 'USA' di bagian helm.

Setelah itu, muncul juga adegan latihan menembak yang dilakukan para tentara wanita. Sebagian ada yang menembak sambil berdiri, sebagian lagi sambil merangkak.

Status Panas Disemenanjung Korea Kian meningkat Tiap harinya dengan Terus banyaknya Provokasi Yang dilakukan Oleh Kedua Belah pihak. Korut Bahkan Mengancam akan Menyerang Markas AS jika Ini terus dilakukan

Senin, 01 April 2013

Misteri Wanita Penjelajah Waktu Ditahun 1938 Terkuak

Misteri Wanita Penjelajah Waktu Ditahun 1938 TerkuakMisteri Wanita Penjelajah Waktu Ditahun 1938 Terkuak. Banyak orang yang Heboh Dengan Video time Traveler di tahun 1938. Video Yang dipublish Di Youtube ini sangat populer dan sempat jadi hot Video Karena Banyak Yang bingung bagaimana bisa Ada teknologi ponsel di tahun 1938. Muncul spekulasi sang wanita adalah penjelajah waktu dari masa depan. Benarkah semua itu ?

Video wanita itu membuat heboh di kalangan pengguna internet sejak lama. Yang jadi pertanyaan, bagaimana mungkin ada orang yang menggunakan ponsel plus handset tanpa kabel. Ada 300 ribu orang yang menonton video yang dibuat di sebuah pabrik di Amerika Serikat pada tahun 1930-an itu.

Mereka yang percaya teori konspirasi menduga, wanita itu adalah penjelajah waktu dari masa depan. Dia membawa teknologi kini ke masa lalu, hingga terekam kamera.

Dilansir Daily Mail, Senin (1/4/2013), baru-baru ini muncul cicit dari sang wanita yang berada di dalam video tersebut. Perwakilan keluarga menegaskan, wanita itu bukan time traveler seperti yang dispekulasikan para penganut paham teori konspirasi.

Wanita itu memang menggunakan telepon seluler, namun itu masih merupakan prototipe yang sedang dikembangkan oleh pabrik alat komunikasi di Leominster, Massachusetts.

Bila kita melihat video itu, selintas memang agak mengejutkan. Terlebih lagi judulnya langsung diberi nama 'time traveler in 1938 film'.

Seorang wanita dengan pakaian ala tahun 30-an berjalan bersama sejumlah orang yang baru pulang bekerja. Dia terlihat sedang berbicara melalui sebuah alat yang dipasang di telinganya. Wanita itu juga terlihat membawa telepon seluler modern.

Belakangan diketahui, gambar itu diambil di sebuah pabrik milik Dupont.

Setelah menyebar begitu luas, ada seorang pemilik akun 'planetcheck' yang mengklaim sebagai cicit dari wanita itu yang diketahui bernama Gertrude Jones.

"Dia berusia 17 tahun saat itu. Saya bertanya padanya soal video ini dan dia ingat. Dia mengatakan, Dupont memiliki seksi komunikasi telepon di pabrik," jelasnya.

"Mereka sedang bereksperiman dengan telepon tanpa kabel. Gertrude dan lima wanita lainnya diberikan ponsel tanpa kabel itu untuk pengujian selama seminggu," sambungnya.

Belum ada verifikasi langsung soal klaim 'planetcheck'. Namun pengguna YouTube lainnya yang punya kerabat pegawai pabrik itu juga memberi penjelasan serupa.

Dan Inilah Video Yang menghebohkan dunia Maya itu

Youtube Akan Ditutup Oleh Google

Youtube Akan Ditutup Oleh Google. Itu kabar Yang santer didunia Maya kali ini. Sudah Banyak Yang membuktikan Kebenaran Berita ini.

Kabar hot ini menjadikan Banyak orang Yang bingung Bagaimana Mereka akan share Video Mereka. Yap Ternyata setelah ditelusuri Ini semua Hanyalah April Fools! Ya, YouTube membuat video lelucon. Situs berbagi video terbesar di dunia, membuat video April Fools yang jatuh 1 April tentang layanannya yang akan ditutup. Mereka membuat video ini dengan serius dan mengatakan bahwa YouTube dibuat untuk kontes video terbaik dari seluruh dunia dan batas waktunya hari ini 1 April tengah malam nanti.

Semuanya Begitu Serius Lihatlah tulisan Yang disertakan Dalam Video Ini

YouTube's ready to select a winner

Thanks for all your great entries. YouTube finally has enough videos to begin selecting a winner. What do you think is the #bestvideo on YouTube? We've been thrilled with all of the diverse, creative entries we've seen so far, and we can't wait to begin the process of selecting the best video. We'll be announcing the winner in 10 years

Semuanya Seolah Nyata dan Benar benar akan terjadi Namun semua ini Hanyalah lelucon Bulan April Jadi Jangan Khawatir Kamu semua masih bisa kok Upload Video Kami disana. karena mereka tidak akan tutup

Pembantaian Muslim Myanmar Kian Menggila. Mengapa Kita Diam ?

Pembantaian Muslim Myanmar Kian Menggila. Mengapa Kita Diam ? Di myanmar Sana warga muslim Kian ditindas. Dianiyaya tanpa Belas Kasihan Kemanusiaan. tidak ada Orang yang Mengaku pembela HAM Yang melakukan tindakan Yang berarti Disana. Mereka Yang mengaku Sebagai Pembela HAM hanya Diam Karena Mereka Itu Antek Antek Amerika.



Seorang aktivis Muslim Burma (Myanmar) melaporkan bahwa perhitungan awal terhadap korban pembantaian etnis yang dilakukan oleh kelompok ekstrem Budha Burma menunjukkan sedikitnya 250 Muslim Burma gugur, 500 Muslim terluka parah, dan 300 Muslim diculik.
Aktivis Muslim Burma, Muhammad Nashr, dalam wawancara dengan stasiun TV Al-Arabiya via telepon pada Jum’at (29/6/2012) menyebutkan milisi ekstrim Budha Burma, Magh, membakar lebih dari 20 desa Muslim dan 1600 rumah umat Islam. Ribuan kaum Muslimin terpaksa meninggalkan desa-desa mereka untuk menyelamatkan diri.


Pasar habis dibakar



Aparat keamanan Burma sendiri mendiamkan saja pembantaian etnis mayoritas Budha terhadap etnis minoritas Muslim tersebut. Padahal pembakaran, pembantaian dan penculikan etnis Budha Burma terhadap etnis Muslim Rohingya telah mendapat liputan media massa internasional selama dua pekan terakhir ini.

Pembakaran desa Muslim

Nashr melaporkan bahwa penduduk etnis Muslim Rohingya dipaksa untuk melarikan diri dari ladang pembantaian di Burma. Mereka terpaksa mengungsi ke negara tetangga, Bangladesh, dengan pelayaran perahu-perahu tradisional. Jumlah pengungsi Muslim Rohingya di Bangladesh telah mencapai lebih dari 300 ribu jiwa. Pemerintah sekuler Bangladesh kemudian memulangkan kembali sebagian pengungsi Muslim Rohingya ke Burma dengan berbagai alasan klise.

Aksi kekerasan polisi Myanmar terhadap Muslim Rohingya

Para pengungsi Muslim Rohingya di Bangladesh hidup dalam kondisi yang sangat

 
mengenaskan. Mereka bertahan di wilayah Takenaf dalam tenda-tenda pengungsian yang terbuat dari dedaunan dan rerumputan. Kawasan kumuh yang kotor dan penuh dengan rawa-rawa tersebut menjadi lahan subur bagi timbulnya penyakit malaria, kolera dan disentri. Kaum Muslimin di seluruh dunia wajib mengulurkan bantuan untuk mereka secepat mungkin.

Jumlah kematian Muslim di Arakan capai 6000 jiwa



Pengungsi. Rumah mereka ludes dibakar!

Pembakaran desa Muslim

Sebelumnya diberitakan, jumlah Muslim yang gugur di Arakan mencapai 6000 jiwa.  Kebiadaban tersebut dilakukan oleh ekstrimis Buddha dan pasukan gabungan tentara Burma. Ribuan jiwa Muslim tak bersalah telah gugur (syahid insya Allah) dalam kekerasan yang memuncak akhir-akhir ini.

Berdasarkan laporan dari forum Ansar Al-Mujahidin, para saksi mata dari keluarga korban yang terus berkomunikasi melalui telepon, memperkirakan bahwa jumlah kematian Muslim di Arakan dapat mencapai 6000 jiwa hingga saat ini (innaalillahi wa inna ilaihi rooji’uun). Memang, diakui, sementara ini belum ada media yang dapat merinci jumlah spesifik korban, mengingat media-media saat ini hanya menerima laporan dari warga Rohingya di Arakan yang selamat dan masih bisa berkomunikasi. Menurut saksi, jumlah-jumlah yang selama ini dinyatakan hanya mewakili bahwa benar-benar terjadi pembantaian brutal terhadap Muslim di Arakan.

Selain itu dikatakan bahwa para ekstrimis  Buddha telah membunuh ratusan orang Rohingya kemudian melemparkan jasad mereka ke teluk Bengal. Untuk menyembunyikan fakta dan menyebarkan propaganda busuk, para penganut Buddha etnis Rakhine itu menempatkan pakaian-pakaian yang biasa dikenakan warga Buddha kepada Muslim yang meninggal dan mengklaim bahwa mereka adalah jasad orang Buddha yang menjadi korban.
Pasukan gabungan Nasaka dan orang-orang Buddha Rakhine juga menangkapi warga Rohingya dari desa-desa mereka yang dapat memimpin penduduk Muslim. Kebanyakan pria dewasa atau para pemuda, dibawa ke tempat yang tidak diketahui dan dikabarkan telah tewas tak terlihat oleh penduduk setempat.



Lebih jauh lagi, karena kebanyakan yang dibunuh adalah Muslim laki-laki, sehingga banyak Muslimah tinggal di rumah mereka tanpa perlindungan dari laki-laki. Karena itu, banyak Muslimah serta anak-anak yang melarikan diri menuju perbatasan Bangladesh, namun ironisnya pasukan ‘keamanan’ perbatasan Bangladesh mengirim kembali perahu-perahu mereka ke Myanmar, sehingga kaum musyrik  Buddha menenggelamkan perahu-perahu kaum Muslimin dan membunuh para penumpangnya.
Sementara puluhan ribu Muslim Rohingya di kota-kota di Arakan  menderita kelaparan karena tidak ada pasokan pangan yang cukup, juga karena toko-toko mereka telah dibakar habis. Mereka juga menderita karena harus menjadi tunawisma.Rumah-rumah mereka ludes terbakar.  Mereka bertahan tinggal di tempat-tempat pengungsian yang sangat buruk kondisinya.


MUSLIM MYANMAR DIBAKAR HIDUP HIDUP

Amat mendesak dan urgen! Muslim Myanmar butuh kepedulian dari saudaranya di belahan bumi lain. Muslim Rohingya sangat memerlukan uluran tangan, termasuk, setidaknya melakukan unjuk rasa untuk menekan kedubes Burma/Myanmar di Jakarta. Ormas dan gerakan Islam…Ayo bergerak serempak! Mari Bantu Mereka untuk Keluar dari Semua ini